BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Manusia dan mamalia memiliki sistem oleh karena itu
diperlukan suatu jaringan komunikasi internal yang mampu mengkordinasi
aktifitas setiap sistem dan
terhadap berbagai kondisi lingkungan.
Pada dasarnya manusia memiliki dua bentuk komunikasi
utama yang meadukan berbagai fungsi tubuh, kedua bentuk komunikasi dalam adalah
sistem saraf dan sistem endokrin.
Otak mempunyai lima bagian utama, yaitu: otak besar
(serebrum), otak tengah (mesensefalon), otak kecil (serebelum), sumsum sambung
(medulla oblongata), dan jembatan varol.
Otak besar mempunyai fungsi dalam pengaturan semua
aktivitas mental, yaitu yang berkaitan dengan kepandaian (intelegensi), ingatan
(memori), kesadaran, dan pertimbangan.
Otak tengah terletak di depan otak kecil dan jembatan
varol. Di depan otak tengah terdapat talamus dan kelenjar hipofisis yang
mengatur kerja kelenjar-kelenjar endokrin.
Serebelum mempunyai fungsi utama dalam gerakan otot yang
terjadi secara sadar, keseimbangan, dan posisi tubuh.
Sumsum sambung berfungsi menghantar impuls yang datang
dari medula spinalis menuju ke otak. Sumsum sambung juga memepengaruhi
jembatan, refleks fisiologi seperti detak jantung, tekanan darah, volume dan
kecepatan respirasi, gerak alat pencernaan, dan sekresi kelenjar pencernaan. Selain itu,
sumsum sambung juga mengatur gerak refleks yang lain seperti bersin, batuk, dan
berkedip.
Jembatan varol berisi serabut saraf yang menghubungkan
otak kecil bagian kiri dan kanan, juga menghubungkan otak besar dan sumsum
tulang belakang.
Pada penampang melintang sumsum tulang belakang tampak
bagian luar berwarna putih, sedangkan bagian dalam berbentuk kupu-kupu dan
berwarna kelabu. Pada penampang melintang sumsum tulang belakang ada bagian
seperti sayap yang terbagi atas sayap atas disebut tanduk dorsal dan sayap
bawah disebut tanduk ventral. Impuls sensori dari reseptor dihantar masuk ke
sumsum tulang belakang melalui tanduk dorsal dan impuls motor keluar dari
sumsum tulang belakang melalui tanduk ventral menuju efektor. Pada tanduk
dorsal terdapat badan sel saraf penghubung (asosiasi konektor) yang akan
menerima impuls dari sel saraf sensori dan akan menghantarkannya ke saraf motor
(Bagod.S.,2001)
B. Maksud Percobaan
Untuk mengetahui dan memahami efek-efek obat
anastesi yang bekerja pada sistem saraf pusat pada hewan uji mencit (Mus musculus)
C. Tujuan
Percobaan
Untuk mengetahui dan mengamati efek yang ditimbulkan dari
pemberian kloroform
dan eter, terhadap SSP Mencit (Mus
musculus) yang diamati dengan barometer waktu tidur.
D. Prinsip
percobaan
Berdasarkan parameter waktu tidur hewan uji sehingga
dapat ditentukan onset
dan durasi yang dihasilkan oleh hewan coba mencit (Mus musculus) setelah pemberian kloroform dan eter.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
A. Teori Ringkas
Sistem saraf yang dapat mengendalikan sistem saraf
lainnya didalam tubuh di bagi dua golongan yaitu :
1. Sistem saraf
pusat (SSP) atau sistem saraf sentral, terdiri dari otak dan sumsum
tulang belakang (spinal
cord).
2. Sistem saraf perifer
yang terdiri dari :
a. Saraf otak dan
tulang belakang.
b. Susunan saraf
otonom.
Sistem saraf perifer
berfungsi menghantarkan impuls dari dan ke susunan saraf
pusat atau dengan istilah lain dari saraf efferent (motorik) ke saraf
afferen (sensoris).
Rangsangan seperti sakit, panas, rasa, cahaya, suara
mula-mula di terima oleh sel-sel penerima (reseptor),
kemudian di
lanjutkan ke otak dan sumsum tulang belakang.
SSP dapat di tekan seluruhnya oleh penekan saraf pusat
yang tidak spesifik,
misalnya hipnotik
sedatif. Obat yang dapat
merangsang di sebut analeptik dan obat antidepresi.
Obat yang bekerja pada sistem saraf pusat terbagi menjadi
obat depresan saraf pusat yaitu anastetik umum (memblokir rasa
sakit), hipnotik
sedatif (menyebabkan
tidur), psikotropika (menghilangkan
gangguan jiwa), antikonvulsi
(menghilangkan kejang), analgetik
(mengurangi
rasa sakit). Rasa sakit di sebabkan oleh perangsangan rasa sakit di otak besar dan reaksi
emosional. analgetik
menaikkan ambang rasa sakit di otak besar, sedangkan
analgetik narkotik menekan reaksi emosional (psikis) yang di
timbulkan oleh rasa sakit tersebut.
Sistem saraf merupakan pusat koordinasi keseimbangan
fisiologi dalam tubuh, saraf membawah informasi dari reseptor sensori menuju
obat dan sumsum tulang belakang reseptor sensori merupakan bagian tubuh yang
paling peka dan mampu mendeteksi rangsangan, baik yang berasal dari dalam
berupa rasa lapar, haus, dan nyeri sedangkan rangsangan eksternal berupa cahaya
secara panas dan dingin. Selanjutnya saraf menyampaikan perintah dari otak dan
sumsum tulang belakang, ke efektor sehingga tubuh bereksi misalnya pada saraf
tekanan darah, reaksi timbul suatu rangsangan internal pada reseptor.
Kemudian otak mengirim impuls-impuls saraf keluar
yang menyebabkan pembuluh darah berkontraksi sehingga tekanan darah meningkat.
Sistem endokrin seperti halnya sistem
saraf, berfungsi untuk mengatur-mengatur organ lainnya tetapi sifat kerja dan
respon yang ditimbulkan berlangsung lambat.
B. Uraian Bahan
1. Kloroform (FI
Edisi III hal 151-152)
Nama Resmi
: CHLOROFORM
Nama Lain
: Kloroform
RM : CHC13
BM : 119,38
Pemerian
: Cairan mudah
menguap, tidak berwarna, bau khas, Rasa manis dan membakar.
Kelarutan
: Larut dalam
kurang lebih 200 bagian air, mudah larut
dalam etanol mutlak P,
dalam sebagian
pelarut organik dalam minyak atsiri
dan minyak lemak.
2. Eter (FI Edisi IV hal 65)
Nama Resmi
: AETHER
Nama Lain
: Eter
RM
: C4H100
BM
: 74,12
Pemerian
: Cairan mudah
mengalir, mudah menguap, tak Berwarna,
berbau khas
Kelarutan
: Larut dalam
air, dapat bercampur dengan etanol, dengan bensena
dengan Kloroform,
dengan pelarut heksana, minyak Lemak minyak menguap.
Penyimpanan
: Dalam wadah
tertutup rapat
C. Uraian Obat
1.
Eter
Efek Samping
: Iritasi saluran
nafas, merangsang sekresi, kelenjar, bronkus, mual, muntah.
Farmakokinetik
: Eter di
absorbsi dan di ekskresi melalui
paru sebagian kecil
di sekresi juga melalui urin, air susu,
keringat dan difusi melalui
kulit utuh
2. Kloroform
Efek Samping : Iritasi saluran nafas, merangsang sekresi, kelenjar, bronkus, mual, muntah.
Farmakokinetik : Kloroform di absorbsi dan di ekskresi melalui paru
sebagian kecil dan di
sekresi juga
melalui urin, air susu, keringat dan
difusi melalui kulit utuh.
D. Uraian Hewan Uji
1. Mencit (Mus musculus) (MBM, Malolle. 1989)
a. Klasifikasi
Kingdom
: Animalia
Philum
: Chordata
Class : Mamalia
Ordo :
Rhodentia
Family :
Muridae
Genus : Mus
Spesies : Mus musculus
b. Morfologi
Bulu mencit
putih dan berwarna sedikit lebih pucat, mata berwarna hitam dan kulit berpigmen. Berat badan
pada 4 minggu mencapai 10-20 gr. Berat dewasa sekitar 25-40 gr.
c. Karakteristik
Lama Hidup : 1-2 tahun atau 3 tahun
Lama Bunting :
19-21 hari
Umur disapih :
21 hari
Umur dewasa :
35 hari
Siklus kelamin
: Poliestrus
Siklus estrus :
4-5 hari
Lama estrus :
2-24 hari
Berat dewasa : 20-40 gr
Jumlah anak : Rata-rata 6
bisa sampai 15
Suhu(Rektal) : 35o - 39oC (rata-rata
37,4oC)
Perkawinan
kelompok : 4 betina 1
jantan
Aktifitas :
Nocturnal (malam)
BAB III
METODE KERJA
A. Alat dan Bahan
a. Alat-alat yang digunakan
1. Gelas kimia
2. Kapas
3. Stopwatch
4. Timbangan
5. Toples
b. Bahan-bahan yang digunakan
1. Aluminium foil
2. Eter
3. Klorform
4. Mencit (Mus
musculus)
B. Cara Kerja
a. Praperlakuan
1. Disiapkan alat
dan bahan
2. Hewan uji terlebih
dahulu dipuasakan,
lalu ditimbang dan
dikelompokkan
b. Perlakuan
1. Di masukkan
mencit pertama kedalam gelas kimia, basahi kapas dengan eter lalu masukkan
kedalam gelas kimia yang berisi mencit pertama.
2. Di masukkan
mencit kedua kedalam gelas kimia lain, basahi kapas dengan kloroform, lalu masukkan kedalam
gelas kimia yang berisi mencit kedua
3. Amati gejala yang timbul kemudian dihitung
onset dan durasinya.
BAB IV
HASIL
PENGAMATAN
A. Tabel Pengamatan
|
Obat
|
BB
Hewan uji
|
Onset
|
Durasi
|
Gejala yang
timbul
|
|
Eter
Kloroform
|
21 gr
19 gr
|
48 detik
1 menit
|
9 menit
-
|
Miosis,midriasi, grooming,nafas
lambat,eter berdiri.
-
|
BAB V
PEMBAHASAN
Istilah
anestesia dikemukakan pertama kali oleh o-w Holmes yang artinya tidak ada rasa
sakit. Anestesia umum yaitu hilang rasa sakitdisertai hilang kesadaran. Sejak
dahulu sudah dikenal tindakan anastesia yang digunakan untuk mempermudah
tindakan operasi. Anastesia yang dilakukan dahulu oleh orang mesir menggunakan
narkotik, oarang cina menggunakan canabis indica dan pemukulan kepala dengan
tongkat kayu untuk menghilangkan kesadaran.
Sampai sekarang
mekanisme terjadinya anastasia belum jelas meskipun dalam bidang fisiologi SSP
dan susunan saraf farifer terhadap kemajuan hebat maka timbul berbagai teori
berdasarkan sifat obat anastetik, misalnya penurunan transmisi sinops,
menghambang pengambilan oksigen di otak.
Hipnotik
sedatif merupakan golongan obat depresan susunan saraf pusat (SSP) yang relatif
tidak selektif, mulai dari yang ringan yaitu menyebabkan tenang tau kantuk, mundurkan,
hingga yang berat. Pada dosis terapi obat sedatif menekan aktifitas, menurunkan
respons terhadap merangsang emosi dan menenamkan. Obat hipnotik menyebabkan
kantuk dan mempermudah tidur serta mempertahankan tidur yang menyerupai tidur
fisiologi.
Eter yang
digunakan sebagai larutan uji pada percobaan yang telah dilakukan merupakan
golongan anastetik yang menguap. Eter merupakan cairan tidak berwarna, mudah
menguap, berbau, mengiritasi saluran nafas, mudah terbakar dan mudah meledak.
Eter
menyebabkan iritasi saluran nafas dan merangsang sekresi kelenjer. Pada induksi
dan waktu pemulihan eter, eter menimbulkan salivasi, tetapi pada stasium yang
lebih dalam, salivasi akan dihambat dan terjadi depresi panas.
Berikut adalah mekanisme tidur yaitu Hipnotik yang
ideal haruslah memiliki mula kerja cepat, mampu mempertahankan tidur sepanjang
malam dan tidur tidak meninggalkan efek residu pada keesokan harinya. Diantara
benzo yang lazim digunakan.
Diazepam sebagai hipnotik sedatif. Bila obat diindikasikan untuk menginduksi
tidur, triazolen yang paling efektif sebab mula kerjanya yang cepat dan
kemampuan mengurangi tidur yang berkepanjangan. Bila diinginkan efek hipnotik
yang tidak menganggu keterampilan disiang hari, dipilih triozolam dan temazepa
namun penghentian mendadak kedua obat ini terutama triozepan. (Fater Edisi IV hal
127)
Adapun
kesalahan yang terjadi pada praktikum
yang disebabkan
oleh, antara lain
:
1. Alat yang
digunakan kurang steril.
2. Bahan telah
berkontaminasi.
3. Kesalahan pada
pemberian obat.
4. Hewan coba yang
digunakan tidak sehat.
5. Ketidak tepatan
menjalankan presedur kerja.
BAB VI
PENUTUP
A. Kesimpulan
Dari hasil
percobaan yang kami lakukan dapat disimpulkan bahwa pemberian eter pada hewan
uji lebih cepat menimbulkan efek dari pada kloroform dimana diperoleh onset
pada eter 48 detik dan
onset pada kloroform 1 menit dan
durasi pada eter 9 menit.dengan gejala yang timbul pada eter yakni miosis,
midriosis, grooming, diare, ekor berdiri.
B. Saran
Laboratorium
Sebaiknya alat
dan bahan yang tidak ada dalam LAB dilengkapi, supaya dalam percobaan data yang
diperoleh lebih akurat.
Asisten
Sebaiknya
asisten yang mengawas dan bertanggun jawab terhadap percobaan, diharapkan
kehadirannya, agar praktikum dapat diberi arahan dan percobaan bisa berjalan
dengan baik.
DAFTAR PUSTAKA
Anonim, 2011
mencit-dan-tikus-Mus-musculus-rattus.html.http://yudistar-blogspot-com.Di akses
tanggal 6 mei 2011
Direktorat
Jendral POM.1979- Farmakope Indonesia Edisi III.
Jakarta . Departemen Kesehatan Republik Indonesia.
Direktorat Jendral POM.1979- Farmakope Indonesia Edisi IV. Jakarta . Departemen
Kesehatan Republik Indonesia.
Ganiswarna, Sulistia G. 1995. Farmakologi
dan Terapi Edisi 4. Jakarta . Fakultas Kedokteran Universitas
Indonesia
Sudjadi, Bugod. 2001.
Biologi 2. Jakarta : Penerbit Yudistira.
MBM, Malole. 1989. Penggunaan
Hewan-hewan Percobaan Di Laboratorium. Bogor : Institut Pertanian Bogor