Kamis, 01 Januari 2015

Laporan Praktikum Sistem Saraf Pusat



BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Manusia dan mamalia memiliki sistem oleh karena itu diperlukan suatu jaringan komunikasi internal yang mampu mengkordinasi aktifitas setiap sistem dan terhadap berbagai kondisi lingkungan.
Pada dasarnya manusia memiliki dua bentuk komunikasi utama yang meadukan berbagai fungsi tubuh, kedua bentuk komunikasi dalam adalah sistem saraf dan sistem endokrin.
Otak mempunyai lima bagian utama, yaitu: otak besar (serebrum), otak tengah (mesensefalon), otak kecil (serebelum), sumsum sambung (medulla oblongata), dan jembatan varol.
Otak besar mempunyai fungsi dalam pengaturan semua aktivitas mental, yaitu yang berkaitan dengan kepandaian (intelegensi), ingatan (memori), kesadaran, dan pertimbangan.
Otak tengah terletak di depan otak kecil dan jembatan varol. Di depan otak tengah terdapat talamus dan kelenjar hipofisis yang mengatur kerja kelenjar-kelenjar endokrin.
Serebelum mempunyai fungsi utama dalam gerakan otot yang terjadi secara sadar, keseimbangan, dan posisi tubuh.
Sumsum sambung berfungsi menghantar impuls yang datang dari medula spinalis menuju ke otak. Sumsum sambung juga memepengaruhi jembatan, refleks fisiologi seperti detak jantung, tekanan darah, volume dan kecepatan respirasi, gerak alat pencernaan, dan sekresi kelenjar pencernaan. Selain itu, sumsum sambung juga mengatur gerak refleks yang lain seperti bersin, batuk, dan berkedip.
Jembatan varol berisi serabut saraf yang menghubungkan otak kecil bagian kiri dan kanan, juga menghubungkan otak besar dan sumsum tulang belakang.
Pada penampang melintang sumsum tulang belakang tampak bagian luar berwarna putih, sedangkan bagian dalam berbentuk kupu-kupu dan berwarna kelabu. Pada penampang melintang sumsum tulang belakang ada bagian seperti sayap yang terbagi atas sayap atas disebut tanduk dorsal dan sayap bawah disebut tanduk ventral. Impuls sensori dari reseptor dihantar masuk ke sumsum tulang belakang melalui tanduk dorsal dan impuls motor keluar dari sumsum tulang belakang melalui tanduk ventral menuju efektor. Pada tanduk dorsal terdapat badan sel saraf penghubung (asosiasi konektor) yang akan menerima impuls dari sel saraf sensori dan akan menghantarkannya ke saraf motor
(Bagod.S.,2001)
B. Maksud Percobaan
Untuk mengetahui dan memahami efek-efek obat anastesi yang bekerja pada sistem saraf pusat pada hewan uji mencit (Mus musculus)
C. Tujuan Percobaan
Untuk mengetahui dan mengamati efek yang ditimbulkan dari pemberian kloroform dan eter, terhadap SSP Mencit (Mus musculus) yang diamati dengan barometer waktu tidur.
D. Prinsip percobaan
Berdasarkan parameter waktu tidur hewan uji sehingga dapat ditentukan onset dan durasi yang dihasilkan oleh hewan coba mencit (Mus musculus) setelah pemberian kloroform dan eter.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
A. Teori Ringkas
Sistem saraf yang dapat mengendalikan sistem saraf lainnya didalam tubuh di bagi dua golongan yaitu :
1. Sistem saraf pusat (SSP) atau sistem saraf sentral, terdiri dari otak dan sumsum tulang belakang (spinal cord).
2. Sistem saraf perifer yang terdiri dari :
a. Saraf otak dan tulang belakang.
b. Susunan saraf otonom.
Sistem saraf perifer berfungsi menghantarkan impuls dari dan ke susunan saraf pusat atau dengan istilah lain dari saraf efferent (motorik) ke saraf afferen (sensoris).
Rangsangan seperti sakit, panas, rasa, cahaya, suara mula-mula di terima oleh sel-sel penerima (reseptor), kemudian di lanjutkan ke otak dan sumsum tulang belakang.
SSP dapat di tekan seluruhnya oleh penekan saraf pusat yang tidak spesifik, misalnya hipnotik sedatif. Obat yang dapat merangsang di sebut analeptik dan obat antidepresi.
Obat yang bekerja pada sistem saraf pusat terbagi menjadi obat depresan saraf pusat yaitu anastetik umum (memblokir rasa sakit), hipnotik sedatif (menyebabkan tidur), psikotropika (menghilangkan gangguan jiwa), antikonvulsi (menghilangkan kejang), analgetik (mengurangi rasa sakit). Rasa sakit di sebabkan oleh perangsangan rasa sakit di otak besar dan reaksi emosional. analgetik menaikkan ambang rasa sakit di otak besar, sedangkan analgetik narkotik menekan reaksi emosional (psikis) yang di timbulkan oleh rasa sakit tersebut.
Sistem saraf merupakan pusat koordinasi keseimbangan fisiologi dalam tubuh, saraf membawah informasi dari reseptor sensori menuju obat dan sumsum tulang belakang reseptor sensori merupakan bagian tubuh yang paling peka dan mampu mendeteksi rangsangan, baik yang berasal dari dalam berupa rasa lapar, haus, dan nyeri sedangkan rangsangan eksternal berupa cahaya secara panas dan dingin. Selanjutnya saraf menyampaikan perintah dari otak dan sumsum tulang belakang, ke efektor sehingga tubuh bereksi misalnya pada saraf tekanan darah, reaksi timbul suatu rangsangan internal pada reseptor.
Kemudian otak mengirim impuls-impuls saraf keluar yang menyebabkan pembuluh darah berkontraksi sehingga tekanan darah meningkat. Sistem endokrin seperti halnya sistem saraf, berfungsi untuk mengatur-mengatur organ lainnya tetapi sifat kerja dan respon yang ditimbulkan berlangsung lambat.
B. Uraian Bahan
1. Kloroform (FI Edisi III hal 151-152)
Nama Resmi : CHLOROFORM
Nama Lain : Kloroform
RM : CHC13
BM : 119,38
Pemerian : Cairan mudah menguap, tidak berwarna, bau khas, Rasa manis dan membakar.
Kelarutan : Larut dalam kurang lebih 200 bagian air, mudah larut dalam etanol mutlak P, dalam sebagian pelarut organik dalam minyak atsiri dan minyak lemak.
2. Eter (FI Edisi IV hal 65)
Nama Resmi : AETHER
Nama Lain : Eter
RM : C4H100
BM : 74,12
Pemerian : Cairan mudah mengalir, mudah menguap, tak Berwarna, berbau khas
Kelarutan : Larut dalam air, dapat bercampur dengan etanol, dengan bensena dengan Kloroform, dengan pelarut heksana, minyak Lemak minyak menguap.
Penyimpanan : Dalam wadah tertutup rapat
C. Uraian Obat
1. Eter
Efek Samping : Iritasi saluran nafas, merangsang sekresi, kelenjar, bronkus, mual, muntah.
Farmakokinetik : Eter di absorbsi dan di ekskresi melalui paru sebagian kecil di sekresi juga melalui urin, air susu, keringat dan difusi melalui kulit utuh
2. Kloroform
Efek Samping : Iritasi saluran nafas, merangsang sekresi, kelenjar, bronkus, mual, muntah.
Farmakokinetik : Kloroform di absorbsi dan di ekskresi melalui paru sebagian kecil dan di sekresi juga melalui urin, air susu, keringat dan difusi melalui kulit utuh.
D. Uraian Hewan Uji
1. Mencit (Mus musculus) (MBM, Malolle. 1989)
a. Klasifikasi
Kingdom : Animalia
Philum : Chordata
Class : Mamalia
Ordo : Rhodentia
Family : Muridae
Genus : Mus
Spesies : Mus musculus
b. Morfologi
Bulu mencit putih dan berwarna sedikit lebih pucat, mata berwarna hitam dan kulit berpigmen. Berat badan pada 4 minggu mencapai 10-20 gr. Berat dewasa sekitar 25-40 gr.
c. Karakteristik
Lama Hidup : 1-2 tahun atau 3 tahun
Lama Bunting : 19-21 hari
Umur disapih : 21 hari
Umur dewasa : 35 hari
Siklus kelamin : Poliestrus
Siklus estrus : 4-5 hari
Lama estrus : 2-24 hari
Berat dewasa : 20-40 gr
Jumlah anak : Rata-rata 6 bisa sampai 15
Suhu(Rektal) : 35o - 39oC (rata-rata 37,4oC)
Perkawinan kelompok : 4 betina 1 jantan
Aktifitas : Nocturnal (malam)
BAB III
METODE KERJA
A. Alat dan Bahan
a. Alat-alat yang digunakan
1. Gelas kimia
2. Kapas
3. Stopwatch
4. Timbangan
5. Toples
b. Bahan-bahan yang digunakan
1. Aluminium foil
2. Eter
3. Klorform
4. Mencit (Mus musculus)
B. Cara Kerja
a. Praperlakuan
1. Disiapkan alat dan bahan
2. Hewan uji terlebih dahulu dipuasakan, lalu ditimbang dan dikelompokkan
b. Perlakuan
1. Di masukkan mencit pertama kedalam gelas kimia, basahi kapas dengan eter lalu masukkan kedalam gelas kimia yang berisi mencit pertama.
2. Di masukkan mencit kedua kedalam gelas kimia lain, basahi kapas dengan kloroform, lalu masukkan kedalam gelas kimia yang berisi mencit kedua
3. Amati gejala yang timbul kemudian dihitung onset dan durasinya.

BAB IV
HASIL PENGAMATAN
A. Tabel Pengamatan
Obat
BB
Hewan uji
Onset
Durasi
Gejala yang
timbul
Eter
Kloroform
21 gr
19 gr
48 detik
1 menit
9 menit
-
Miosis,midriasi, grooming,nafas lambat,eter berdiri.
-
BAB V
PEMBAHASAN
Istilah anestesia dikemukakan pertama kali oleh o-w Holmes yang artinya tidak ada rasa sakit. Anestesia umum yaitu hilang rasa sakitdisertai hilang kesadaran. Sejak dahulu sudah dikenal tindakan anastesia yang digunakan untuk mempermudah tindakan operasi. Anastesia yang dilakukan dahulu oleh orang mesir menggunakan narkotik, oarang cina menggunakan canabis indica dan pemukulan kepala dengan tongkat kayu untuk menghilangkan kesadaran.
Sampai sekarang mekanisme terjadinya anastasia belum jelas meskipun dalam bidang fisiologi SSP dan susunan saraf farifer terhadap kemajuan hebat maka timbul berbagai teori berdasarkan sifat obat anastetik, misalnya penurunan transmisi sinops, menghambang pengambilan oksigen di otak.
Hipnotik sedatif merupakan golongan obat depresan susunan saraf pusat (SSP) yang relatif tidak selektif, mulai dari yang ringan yaitu menyebabkan tenang tau kantuk, mundurkan, hingga yang berat. Pada dosis terapi obat sedatif menekan aktifitas, menurunkan respons terhadap merangsang emosi dan menenamkan. Obat hipnotik menyebabkan kantuk dan mempermudah tidur serta mempertahankan tidur yang menyerupai tidur fisiologi.
Eter yang digunakan sebagai larutan uji pada percobaan yang telah dilakukan merupakan golongan anastetik yang menguap. Eter merupakan cairan tidak berwarna, mudah menguap, berbau, mengiritasi saluran nafas, mudah terbakar dan mudah meledak.
Eter menyebabkan iritasi saluran nafas dan merangsang sekresi kelenjer. Pada induksi dan waktu pemulihan eter, eter menimbulkan salivasi, tetapi pada stasium yang lebih dalam, salivasi akan dihambat dan terjadi depresi panas.
Berikut adalah mekanisme tidur yaitu Hipnotik yang ideal haruslah memiliki mula kerja cepat, mampu mempertahankan tidur sepanjang malam dan tidur tidak meninggalkan efek residu pada keesokan harinya. Diantara benzo yang lazim digunakan. Diazepam sebagai hipnotik sedatif. Bila obat diindikasikan untuk menginduksi tidur, triazolen yang paling efektif sebab mula kerjanya yang cepat dan kemampuan mengurangi tidur yang berkepanjangan. Bila diinginkan efek hipnotik yang tidak menganggu keterampilan disiang hari, dipilih triozolam dan temazepa namun penghentian mendadak kedua obat ini terutama triozepan. (Fater Edisi IV hal 127)
Adapun kesalahan yang terjadi pada praktikum yang disebabkan oleh, antara lain :
1. Alat yang digunakan kurang steril.
2. Bahan telah berkontaminasi.
3. Kesalahan pada pemberian obat.
4. Hewan coba yang digunakan tidak sehat.
5. Ketidak tepatan menjalankan presedur kerja.
BAB VI
PENUTUP
A. Kesimpulan
Dari hasil percobaan yang kami lakukan dapat disimpulkan bahwa pemberian eter pada hewan uji lebih cepat menimbulkan efek dari pada kloroform dimana diperoleh onset pada eter 48 detik dan onset pada kloroform 1 menit dan durasi pada eter 9 menit.dengan gejala yang timbul pada eter yakni miosis, midriosis, grooming, diare, ekor berdiri.
B. Saran
Laboratorium
Sebaiknya alat dan bahan yang tidak ada dalam LAB dilengkapi, supaya dalam percobaan data yang diperoleh lebih akurat.
Asisten
Sebaiknya asisten yang mengawas dan bertanggun jawab terhadap percobaan, diharapkan kehadirannya, agar praktikum dapat diberi arahan dan percobaan bisa berjalan dengan baik.
DAFTAR PUSTAKA
Anonim, 2011 mencit-dan-tikus-Mus-musculus-rattus.html.http://yudistar-blogspot-com.Di akses tanggal 6 mei 2011
Direktorat Jendral POM.1979- Farmakope Indonesia Edisi III. Jakarta . Departemen Kesehatan Republik Indonesia.
Direktorat Jendral POM.1979- Farmakope Indonesia Edisi IV. Jakarta . Departemen Kesehatan Republik Indonesia.
Ganiswarna, Sulistia G. 1995. Farmakologi dan Terapi Edisi 4. Jakarta . Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia
Sudjadi, Bugod. 2001. Biologi 2. Jakarta : Penerbit Yudistira.
MBM, Malole. 1989. Penggunaan Hewan-hewan Percobaan Di Laboratorium. Bogor : Institut Pertanian Bogor